Mengeja Nusantara dari Balik Terpal Tenda
By Admin
Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI Tahun 2026
nusakini.com, Di antara hamparan terpal dan patok-patok bambu yang menancap di bumi Pondok Pesantren An-Nur II Bululawang, Malang, sebuah mukjizat kecil kemanusiaan sedang mekar. Tenda-tenda itu, bila dilihat dari kacamata arsitektur jiwa, bukanlah sekadar tempat berteduh dari embun malam. Ia adalah kampung baru. Di beranda-beranda kanopi darurat itulah, pertemuan-pertemuan yang dalam keseharian nyaris mustahil terjadi, kini mewujud.
Santri-santri belia dari berbagai rahim budaya Nusantara duduk bersila di atas tikar yang sama. Mereka memecah kesunyian dengan celoteh berlogat pekat daerah masing-masing, saling meledek dengan jenaka, dan pada akhirnya, saling menyelami telaga kehidupan pesantren yang rupanya begitu rupa-rupa warnanya.
Maka, Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI Tahun 2026 ini, sejatinya terlalu kerdil jika hanya disebut sebagai arena baris-berbaris atau adu ketangkasan sandi morse. Lebih dari itu, kawan, ia adalah ruang perjumpaan purba. Sebuah universitas kehidupan di mana anak-anak merdeka ini belajar mengeja Indonesia—bukan dari buku atlas yang membosankan di ruang kelas, melainkan dari wajah-wajah hidup kawan sebayanya.
Tengoklah di salah satu sudut perkemahan itu. Ada Subhan Hanafi, seorang peziarah belia dari angin pesisir Sulawesi Barat. Baginya, empat hari bermukim di kampung tenda ini adalah semacam pencerahan batin.
"Alhamdulillah sudah kenal banyak. Ada yang dari Papua, Kalimantan, Jawa, dan Sumatera," katanya dengan mata berbinar di hari Sabtu awal Oktober itu.
Lalu, dengan kepolosan yang memikat hati, ia memamerkan oleh-oleh paling berharganya. Bukan medali atau piagam, melainkan sebuah kalimat, "Ora popo." Ia mengucapkannya dengan cengkok Jawa yang kaku namun diiringi tawa renyah yang seketika menular. Bagi Subhan, Nusantara kini memiliki denyut. Ia belajar adat-istiadat pulau seberang bukan dari peta buta, melainkan dari gelak tawa dan tutur kata kawan di sebelahnya.
Nuansa keintiman yang sama juga mengaliri batin Mutianil Yasmin dan Madina, dua srikandi kecil dari Pesantren Sunan Padanaran, Sleman. Di bawah naungan langit Malang, Yasmin menemukan bahwa lencana terindah dari seorang Pramuka adalah kemampuan merengkuh kawan dan merawat semesta.
"Kami belajar bahwa sebagai manusia harus senantiasa menjaga dan melestarikan alam. Sebagai anak Pramuka, tentu ini menjadi hal yang penting," tutur Yasmin lirih namun mantap. Ia tidak sedang berteori; ia sedang menghayati nilai ekologi yang sejalan dengan fitrah manusia sebagai khalifah pelestari.
Sementara Madina, dengan kelincahan anak muda yang tak pernah kehabisan energi, memandang perkemahan ini sebagai taman bermain mahaluas. Kawan-kawan dari pelbagai pulau itu ia rengkuh dalam satu dekapan persaudaraan. "Rasanya satu RW komplek tenda ini sudah kami kenal semua. Kami asyik saja, mumpung bertemu kawan dari berbagai daerah," celotehnya tanpa beban. Sungguh, arsitektur sosial yang paling jujur acapkali justru dibangun oleh anak-anak, bukan oleh kaum tua yang kerap disekat prasangka.
Lalu ada Keisya Aliya Putri dari Daar el-Qolam 3, Banten. Gadis kecil ini mengajarkan pada kita sebuah filosofi ruang yang indah.
“Kita memang belum nyamperin kotanya," kata Keisya. "Tapi dari orang-orangnya saja, mereka tuh sudah bisa mengenalkan budayanya ke kita. Jadi bikin kita mikir, oh, jadi NTB itu kayak gini ya. Secara tidak langsung kita sudah mengetahui budaya-budaya Indonesia ini secara keseluruhan.”
Dari mulut Keisya, kita disadarkan: Indonesia adalah imajinasi yang hidup. Sebelum kakinya benar-benar menginjak debu tanah Nusa Tenggara atau mencium udara segar dataran tinggi di sana, batinnya sudah lebih dulu menempuh perjalanan jauh ke sana, diantarkan oleh cerita-cerita dari kawan sebaya. Sebuah harapan kecil pun ia titipkan, "Semoga suatu saat bisa tahu langsung dari kotanya ya, Kak."
Bagi anak-anak pesantren ini—baik yang datang dari ingar-bingar kota maupun yang menetas dari keheningan desa—berkumpul di bawah panji PPSN VI adalah merayakan identitas tertinggi mereka: sebagai Santri Indonesia. Di sini, pengetahuan tidak disuapkan secara sepihak oleh narasumber di atas mimbar. Pengetahuan itu mengalir mendatar, dari santri ke santri. Mereka saling meresapi bagaimana pesantren lain membangun kesalehan sosial, menjaga ibu bumi, dan merajut kemandirian.
Pada akhirnya, bagi bocah-bocah pencari cahaya ini, Indonesia bukan lagi sekadar gugusan pulau yang dijahit oleh garis batas di atas peta politik. Nusantara, bagi mereka, kini memiliki wajah, memiliki nama, memiliki logat yang jenaka, dan yang terpenting: Nusantara kini bisa mereka panggil dengan sebutan "sahabat". (*)